Puasa dan Kesalehan Sosial



Puasa selain memiliki aspek religiusitas yang lebih individual, ia juga merupakan jalan menuju kesehatan baik secara mental, fisik maupun sosial. Berbaga kajian ilmiah menunjukkan bahwa dampak puasa amat positif  bagi kesehatan dan pembinaan mental. Diharapkan pula dari sini personal-personal yang demikian untuk kemudian membangun jaringan kesalehan sosial.

Kesalehan sosial yang juga bisa mengimplementasikan solidaritas, kejujuran, toleransi, maupun welas asih, pada akirnya mampu meredam konflik-konflik individual maupun komunal. Hidup menjadi demikian indah dan bermakna bila terhimpun individual-individual yang tingkat kaselahan sosialnya tidaklah payah. Nyatalah kemudian bahwa kita berpuasa mengejawantahkan bukan semata linear urusan vertikal transendental, namun juga horisontal sosial. Dalam ibadah puasa, ada tiga aspek yang fundamental, yaitu pendekatan diri kepada Allah, penyucian diri, dan membangun kesalehan sosial.

Ciri utama mereka yang bisa disebut saleh adalah orang yang baik, unggul, dan mampu berbuat baik terhadap sesama serta memperbaiki lingkungan sekitar. Kesalehan sosial mengandung makna bahwa seseorang dalam kehidupan harus memiliki kepedulian untuk berhubungan secara harmonis dengan lingkungan sosial dan alam sekitar, sekaligus mampu ikut bertanggungjawab terhadap pengembangan masyarakatnya atau memiliki keunggulan partisipatoris yang dilandasi tingginya kualitas iman dan takwa.

Ciri masyarakat yang memiliki kesalehan sosial itu bisa dilihat bagaimana mereka konsisten menempatkan hukum sebagai aturan main. Mereka juga mempunyai kepedulian sosial yang ditandai dengan kemauan berbagi dengan kelompok yang lemah. Selain itu, dicirikan oleh sikap toleran atas berbagai perbedaan yang ada serta kemauan kerja keras untuk mewujudkan kesejahteraan bersama.  Mewujudkan kesejahteraan bersama adalah visi utama diturunkannya agama Islam di muka bumi. Sayyed Hosen Nasr, seorang intelektual Muslim terkemuka mengungkapkan bahwa agama adalah kebersamaan, kepedulian, toleransi, dan upaya pengkayaan spiritualitas pribadinya. Dan tak mungkin spiritualitas itu dikatakan berkembang jika masih belum punya kepedulian kepada sesama.

Banyak cara untuk mengaktualisasikan kesalehan sosial ini, baik melalui memperbanyak sodaqah, beramal jariyah, menyantuni fakir miskin, dan memberi bantuan bagi yang membutuhkan dengan tanpa pamrih. Tentu saja banyak rintangan yang akan menghadang kita dalam mengimplementasikan nilai-nilai sosial, baik yang datang dari dalam diri kita sendiri atau dari luar kita, semisal budaya kikir dan sifat acuh tak acuh yang merambat di masyarakat.

Betapa pun besar rintangannya, solidaritas sosial dan kemanusiaan harus tetap kita perjuangkan, khususnya dalam menghadapi berbagai krisis di Indonesia. Ini merupakan suatu perjuangan panjang yang belum selesai, namun sayangnya rasa kebersamaan kita masih terpuruk. Padahal, kita tengah menghadapi realitas tingginya angka kemiskinan di Tanah Air, baik masyarakat yang masih di lingkaran kemiskinan maupun di bawah garis kemiskinan, dengan berbagai dampak buruknya. Sebagian lagi memang hidup di atas garis kemiskinan atau bahkan berada dalam strata kehidupan yang berkecukupan, namun tidak pernah atau kurang peduli untuk berbagi rasa dan membantu rakyat kecil yang serbakekurangan.

Dari situlah, di bulan yang penuh berkah ini, kiranya penting bagi umat Islam untuk merenungkan kembali nilai-nilai sosial puasa Ramadhan. Betapapun, tidaklah sempurna jika kita berpuasa hanya untuk menahan lapar, haus, dan dahaga tanpa diiringi ibadah sosial yang bermanfaat bagi umat Islam yang lainnya. Akan lebih afdhal jika kita berpuasa di samping untuk meningkatkan spiritual, ketakwaan, juga demi menumbuhkan solidaritas sosial di dalam hati kita.

Dengan demikian maka hal utama yang harus kita sadari bahwa puasa tidak hanya memiliki dimensi hablun min Allah (hubungan vertikal dengan Allah swt.) semata, tetapai juga hablun min an-nas (hubungan horisontal antar-manusia). Seseorang yang melaksanakan ibadah puasa dengan penuh keimanan dan keikhlasan (imanan wa ihtisaban), maka secara tidak langsung dalam pengabdiannya kepada Allah itu juga akan termanifestasi pengabdiannya kepada kemanusiaan.

Karena itu pada periode yang sudah memasuki tengah Ramadhan ini, umat Islam diingatkan agar lebih menghayati puasa sebagai alat mewujudkan solidaritas dan kepedulian sosial. Sejumlah ayat Al-Qur’an mengecam betapa bahayanya sikap ketidakpedulian sosial. Sebaliknya, menyanjung betapa indahnya sikap kesalehan sosial dan kepedulian sosial. Sejumlah surah dalam Al-Qur’an, seperti al-Ma’un, al-Humazah, al-Takasur, dan al-Balad. sengaja diturunkan untuk mengapresiasi sikap kepedulian sosial. Intinya, mengecam manusia yang kikir dan enggan membantu sesamanya; mengutuk manusia yang asyik menumpuk harta, berlomba dalam kemewahan dan kekayaan.

Al-Qur’an menjelaskan secara tegas misi utama Rasul adalah membawa rahmat bagi seluruh manusia (Q.S, 21:107) atau dengan ungkapan lain, membantu manusia mewujudkan tata kehidupan yang dipenuhi oleh nilai-nilai kepedulian dan kasih sayang. Bentuk kepedulian dan kasih sayang kepada sesama dapat diwujudkan dengan mendistribusikan harta demi kepentingan sosial. 

No comments:

Post a Comment